Jumat, 28 Januari 2011

Bagaimana menangani Amarah

Kita semua bisa marah, namun kita menunjukkannya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang meledak-ledak. Yang lainnya merendam amarahnya. Namun tak ada satupun dari kita yang tak pernah marah. Rasa marah adalah reaksi normal dari manusia. Yesus pernah marah. Di dalam Perjanjian Lama ada 375 rujukan yang menyebutkan tentang kemarahan Allah. Alkitab berkata, "Dalam kemarahanmu, janganlah berbuat dosa." Ada cara yang benar dan juga yang salah dalam menyatakan kemarahan. Bagaimana caranya agar Anda bisa menangani kemarahan dengan benar?
Saya akan beri Anda lima langkahnya:
  1. Pahami mengapa Anda sampai marah

    Semakin Anda bisa memahami diri Anda sendiri, maka semakin baik pula kemampuan Anda untuk mengendalikan kemarahan Anda. Kemarahan hanya sekadar suatu tanda peringatan. Kemarahan bukanlah persoalan Anda yang sebenarnya. Kemarahan menunjukkan ada sesuatu yang jauh lebih dalam yang salah.

    Kadang kala, penyebabnya adalah rasa sakit. Jika jempol Anda terkena palu, Anda akan merasa marah. Jika perasaan Anda terluka, maka Anda juga akan marah. Saya pernah membaca sebuah artikel di majalah Orange County Register beberapa waktu yang lalu, dan majalah itu menyebutkan, "Perceraian bukan akhir bagi pasangan yang masih menyimpan kemarahan. Dalam sebuah penelitian tentang orang-orang yang bercerai, sepertiga dari mereka, malah lebih dari sepertiga pria dan wanita yang bercerai, setelah lewat masa sepuluh tahun, masih menyimpan rasa marah berkaitan dengan penikahan mereka yang pertama." Mengapa? Karena perceraian itu menyakitkan. Semakin Anda merasa terluka, maka Anda akan semakin marah. Jika luka ini Anda tangani, maka Anda juga sekaligus menangani rasa marah Anda.

    Kadang kala penyebabnya adalah rasa frustrasi. Kita sering merasa marah menghadapi hal-hal yang kelihatannya tidak berjalan mulus, kita tidak bisa melakukan apa yang mau kita lakukan, atau dipaksa menunggu sesuatu. Daripada membiarkan rasa frustrasi itu berubah menjadi marah, lebih baik kita bertanya pada diri sendiri, "Apakah marah untuk urusan ini layak?" Saya pernah membaca sebuah artikel beberapa waktu yang lalu, tentang seorang remaja yang begitu frustrasi karena terjebak kemacetan sehingga dia mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke atas.

    Malangnya, tembakan itu mengenai seseorang.

    Anak itu, yang berasal dari keluarga Kristen, belakangan dia berkata, "Aku sudah membuat satu bencana besar dan aku harus menghadapinya. Aku layak masuk penjara. Setiap kali aku merenungkan hal itu. Peristiwa itu seperti menjadi mimpi buruk yang tak pernah berakhir. Tak ada hal yang bisa kulakukan untuk mengubah hal itu. Aku hanya bisa berdoa setiap pagi dan malam bagi orang tersebut, kiranya Allah berkenan menjamah dan menyembuhkannya." Layakkah anak itu menembakkan pistol hanya untuk menumpahkan rasa frustrasinya? Tentu saja tidak. Akan tetapi rasa frustrasi bisa dengan mudah berubah menjadi rasa marah jika tidak ditangani dengan benar.

    Kadang kala penyebabnya adalah rasa tidak aman. Kita bisa menjadi marah jika merasa terancam. Kita merasa seperti hewan yang sedang dipojokkan. Hal ini tentu saja tidak harus diartikan secara harfiah belaka. Hal ini juga bisa kita artikan seperti saat harga diri kita dilukai, saat kita dipermalukan, atau saat kita dikritik.

    Hal apakah yang bisa membuat Anda marah? Sebelum Anda bisa mengalahkan godaan rasa marah itu, Anda harus tahu apa penyebabnya.
  2. Dapatkan harga diri Anda dari Allah dan bukan dari manusia

    Rasa percaya diri memiliki peranan yang besar dalam mengendalikan amarah. Orang yang merasa tidak aman akan sangat mudah marah. Orang yang memiliki keyakinan besar tidak mudah marah. Jika Anda percaya diri, maka Anda bisa menangani luka hati, frustrasi dan rasa tidak aman dengan lebih mudah.

    Alkitab berkata, di dalam kitab Pengkhotbah 7:21, "Janganlah memperhatikan segala perkataan yang diucapkan orang." Semakin kita merasa tidak percaya diri, maka - dalam rangka mengejar rasa percaya diri itu - kita cenderung untuk semakin bergantung pada pendapat orang lain atas diri kita. Jika Anda tidak percaya diri dan ada orang yang berkata buruk tentang Anda, maka kemarahan Anda akan meledak karena ketergantungan Anda pada penilaian orang lain atas diri Anda.

    Jika Anda ingin mengatasi rasa marah, Anda tidak boleh tegang saat ada orang lain yang mengritik Anda. Bagaimana supaya bisa mendapatkan rasa percaya diri yang sebesar itu? Amsal 14:26 berkata, "Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar (akan ada keyakinan dan rasa aman)." Untuk mengatasi rasa marah, percayalah pada apa yang dikatakan oleh Allah mengenenai diri Anda. Percayalah bahwa Dia memiliki rencana dan tujuan bagi hidup Anda. Jika Anda ingat akan hal itu, maka Anda tidak akan meledak saat orang lain mengritik Anda.
  3. Berhenti dan berpikir sebelum memberi reaksi

    Gerakkan dulu pikiran Anda sebelum Anda menggerakkan mulut Anda. Seringkali, saat kita merasa marah, maka mulut kita sudah bertindak sebelum pikiran kita bisa menetapkan akan melakukan apa. Amsal 16:23 berkata, "Orang bijak berpikir sebelum mereka berbicara." Karena kata-kata kasar akan sangat mudah membanjiri saat kita marah. Berpikir adalah kunci kepada pengendalian amarah. Anda perlu belajar untuk menunda reaksi.

    Thomas Jefferson pernah berkata, "Kalau kamu marah, hitung dulu sampai 10. Kalau kamu sangat marah, hitung dulu sampai 100." Dan selama masa jeda itu, Anda perlu renungkan tiga pertanyaan ini:

    Mengapa aku sampai marah? Apakah karena rasa takut? Sakit hati? Frustrasi? Apa masalah yang sebenarnya?

    Apa sebenarnya hal yang aku inginkan? Tentunya Anda tidak terlalu menginginkan pembalasan karena membalas dendam sangat jarang membuahkan hasil sesuai harapan Anda. Malahan, tindakan semacam itu hanya akan membawa Anda lebih jauh dari hal yang sesungguhnya Anda harapkan.

    Apa cara terbaik untuk mencapai hasil yang kuinginkan? Sangat jarang Anda bisa mencapai hasil sesuai harapan dengan sindiran, menjatuhkan orang lain, membentak atau berpura-pura berdiam diri. Semua itu tidak ada gunanya.

    Anda mungkin mengira bahwa Anda tidak bisa menahan amarah, sebenarnya Anda bisa! Marah adalah suatu pilihan. Anda marah karena Anda ingin marah. Marah memang bisa memberi kelegaan. Namun Andalah yang menentukan bagaimana Anda mau meresponi.  Karena Anda memiliki pilihan, maka pilihlah untuk menunda sebelum bereaksi!
  4. Belajar untuk santai

    Amsal 14:30 berkata, "Hati yang tenang menyegarkan tubuh." Kemarahan dan ketegangan selalu berjalan beriringan. Saat kita diberikan batas waktu untuk menyelesaikan sesuatu, dan saat mendekati batas waktu itu, kita cenderung mudah marah. Saat terhimpit waktu, kita cenderung mudah tersinggung. Sehari-harinya, saya adalah orang yang tenang, namun seminggu sekali saya terkena PMS (Pre Message Syndrome atau kegelisahan menjelang khotbah). Setiap akhir pekan, saya selalu gugup. Apa yang harus saya sampaikan kepada orang-orang nanti? Syukurlah, istri saya tidak keberatan kalau saya membawa mobil sendiri ke gereja. Hal ini cukup untuk menghindarkan banyak kejadian yang mungkin bisa membuat marah!

    Sebagian dari Anda mengalami luka hati yang begitu pedih sehingga segala sesuatu hal bisa memicu amarah Anda. Minggu demi minggu hidup Anda jalani dalam ketegangan, dan Anda heran mengapa setiap kali pulang ke rumah, Anda harus membentak-bentak ke sana kemari.

    Beikut ini adalah beberapa saran sederhana untuk membantu Anda bersikap tentang:

    Waspada jika ada ketegangan yang muncul dalam hidup Anda. Jika Anda sadar bahwa ada suatu ketegangan yang sedang terbentuk, maka Anda bisa mengendorkannya dengan cara yang benar.

    Membangun selera humor. Kadang kala, kita ini terlalu serius dalam menyikapi sesuatu hal. Saya pernah berkata kepada para staf saya, "Bersikaplah serius kepada Allah, namun jangan bersikap terlalu serius terhadap diri Anda sendiri."
  5. Terus menerus memohon pertolongan Allah

    Yang paling penting, Anda membutuhkan Allah untuk bisa mengatasi rasa marah Anda. Empat buah Roh yang pertama, yang tertulis di dalam Galatia 5:22 adalah kasih, sukacita, damai sejahtera dan kesabaran. Anda membutuhkan semua itu jika Anda ingin mengatasi kemarahan Anda.

    Saat dunia menekan Anda, dan Anda merasa tergencet, maka hal-hal yang tersembunyi di dalam diri Anda akan mencuat keluar. Jika Anda dipenuhi oleh Roh Allah, maka kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kelemah-lembutan, kebaikan, iman, keramah-tamahan dan pengendalian diri akan muncul.
Kemarahan itu adalah tanda peringatan atas persoalan lain yang lebih mendalam - entah itu rasa frustrasi, rasa tidak aman, atau pun penyebab lainnya. Allah ingin menolong Anda untuk menangani persoalan-persoalan tersebut. Bersediakah Anda mengijinkan Dia menanganinya?

Selasa, 25 Januari 2011

Mengapa Allah mengizinkan rasa sakit?

1. Allah memberikan kita kehendak bebas
Di dalam kitab Kejadian kita melihat bahwa kita ini diciptakan menurut gambar Allah. Namun seperti apa jelasnya? Allah memberi kita pilihan. Kita bebas untuk memilih apakah akan melakukan hal yang baik atau yang buruk, untuk menerima atau menolak Allah. Mengapa Allah memberi kita pilihan ini? Karena Dia tidak ingin memiliki kumpulan boneka. Dia tidak harus melakukan hal itu. Dia bisa saja memaksa kita untuk menyembah, melayani dan mengasihi Dia. Namun Dia ingin agar kita mengasihi Dia dengan sukarela. Anda tidak bisa mengatakan bahwa Anda mengasihi seseorang kecuali jika Anda memiliki kesempatan untuk tidak mengasihi dia.
Kehendak bebas ini bukan hanya menjadi suatu anugerah. Kadang kala, kehendak bebas itu menjadi suatu beban. Kadang-kadang, kita membuat pilihan yang bodoh. Pilihan-pilihan itu menimbulkan segala macam akibat yang menyakitkan dalam hidup kita. Saya bisa saja memilih untuk mencoba obat bius. Kalau saya sampai ketagihan, maka itu adalah kesalahan saya sendiri. Saya bisa saja memilih untuk berperilaku seks bebas. Kalau saya terkena penyakit, maka itu kesalahan saya. Allah tidak ingin kita mengalami segala kepedihan ini, akan tetapi Dia akan membiarkan kita menghadapi semua akibat dari pilihan-pilihan kita.
Bukan hanya kita saja yang memiliki kehendak bebas, orang lain juga memilikinya. Kadang kala kita terluka akibat pilihan yang buruk oleh orang lain. Kita semua pernah disakiti oleh orang lain selama hidup ini. Mungkin Anda pernah membatin, "Mengapa Allah tidak mencegahnya?" Dia bisa saja mencegahnya. Cukup dengan merampas kehendak bebas orang yang bersangkutan. Akan tetapi, di sinilah letak dilemanya. Dalam rangka melakukan hal itu, Dia juga harus merampas kehendak bebas Anda.
2. Allah memakai rasa sakit itu untuk mendapatkan perhatian kita
Kepedihan atau rasa sakit adalah suatu lampu isyarat. Lampu isyarat yang memberitahu kita tentang adanya sesuatu hal yang salah. Bukan rasa sakit itu yang menjadi masalahnya. Itu hanya suatu gejala saja. Rasa sakit itu adalah semacam pengeras suara yang dipakai Allah. Seperti pepatah yang pernah Anda dengar, "Allah berbisik kepada kita di saat kita menikmati kesenangan, namun Dia berteriak kepada kita melalui kepedihan kita." Amsal 20:30 berbunyi, "Bilur-bilur yang berdarah membersihkan kejahatan, dan pukulan membersihkan lubuk hati." Kadang-kadang dibutuhkan situasi yang menyakitkan untuk membuat kita mengubah jalan kita.
Beberapa tahun yang lalu saya memiliki sepasang sepatu yang sangat saya sukai. Sepatu itu terbuat dari kulit rusa dan benar-benar terasa halus dan nyaman. Sepasang sepatu yang sangat hebat! Namun, tak lama kemudian, alasnya bolong. Akan tetapi bagian atasnya masih terlihat bagus. Saya tetap saja memakainya. Saya hanya perlu memastikan bahwa saat saya duduk di atas panggung, kaki saya tetap menjejak di lantai. Saya tidak berminat untuk membeli sepatu baru, sampai turun hujan selama tujuh hari berturut-turut, dan saya harus memakai sepatu yang basah itu selama tujuh hari berturut-turut. Kaki saya yang basah itu akhirnya mendorong saya untuk berubah! Paulus berkat kepada kita di dalam 2 Korintus 7:9, "Namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat." Kadang-kadang dibutuhkan rasa sakit untuk membuat kita melakukan apa yang Tuhan mau kita lakukan.
Ingatkah Anda akan kisah Yunus? Yunus berniat pergi ke satu tujuan dan Allah berkata, "Aku ingin agar kamu pergi ke arah yang lain." Lalu Allah memberi tumpangan kepada Yunus dalam bentuk yang sangat khas di laut tengah - dalam perut ikan paus! Dan, di dasar lautan itu, Yunus berkata, "Saat aku kehilangan harapanku, sekali lagi kuarahkan pikiranku kepada Tuhan." Allah memakai kepedihan untuk mendapatkan perhatian kita.
3. Allah memakai rasa sakit untuk mengajari kita agar bergantung kepada-Nya
Anda tidak menyadari bahwa Allah adalah tempat Anda bergantung, sampai akhirnya Anda hanya bisa berharap kepada-Nya. Paulus menyebutkan hal ini di dalam 2 Korintus 1:8-10, "Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati.
Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi."
Jika Anda belum pernah berhadapan dengan masalah, maka Anda tidak akan tahu apakah Allah bisa mengatasinya. Allah membiarkan kepedihan terjadi untuk mengajari Anda agar bergantung kepada-Nya. Alkitab berkata di dalam Mazmur 119:71, "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." Sebenarnya, kita ini hanya bisa belajar dari kepedihan. Belajar bergantung kepada Allah adalah salah satu di antaranya.
4. Allah membiarkan terjadi kepedihan untuk membuka jalan bagi kita melayani orang lain
Kepedihan mempersiapkan Anda buat pelayanan. Paulus berkata di dalam 2 Korintus 1:4, "Yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah." Setiap orang membutuhkan pemulihan dari suatu masalah. Tak ada orang yang sempurna. Siapa yang bisa menolong orang yang kecanduan alkohol melebihi kemampuan orang yang pernah mengalami kecanduan alkohol itu? Siapa yang bisa menolong orang yang mengalami pelecehan melebihi kemampuan orang yang pernah mengalami pelecehan itu? Allah ingin memakai dan mendaur ulang kepedihan di dalam hidup kita untuk bisa menolong orang lain, akan tetapi kita harus jujur dan terbuka akan hal itu.
Allah melakukan hal itu kepada Kay dan saya. Tiga tahun pertama masa pernikahan kami benar-benar sangat buruk. Saya bisa memahami perasaan orang yang berkata bahwa dia sangat menderita dan ingin bercerai. Saya mengerti hal itu karena saya pernah mengalaminya. Namun berkat pertolongan seorang pembimbing Kristen, Kay dan saya mengatasi semua persoalan itu dan sekarang menikmati suasana pernikahan yang luar biasa. Beberapa tahun yang lalu, saya menyampaikan satu seri khotbh ibadah Minggu pagi mengenai pernikahan, di mana saya membahas tentang berbagai persoalan dalam pernikahan yang telah kami atasi. Seri khotbah itu mencapai 12 rangkaian khotbah, namun sebenarnya masih bisa mencapai sekitar 50. Allah memakai kepedihan Anda untuk bisa menolong orang lain.
Bayangkanlah seperti apa armada pelayanan yang bisa Anda latih di tengah jemaat Anda jika Anda menolong orang-orang itu memakai kepedihan di masa lalu mereka sebagai kesempatan untuk melayani. Allah tidak pernah menyia-nyiakan kepedihan!